Monday, September 24, 2012

MERAWAT POHON KEHIDUPAN

Bahan bacaan: Matius 7:17-20

“Demikianlah setiap pohon yang baik menghasilkan buah yang baik, sedang pohon yang tidak baik menghasilkan buah yang tidak baik (Matius 7:17).”

Di dalam Alkitab, dengan kontras Tuhan Yesus mengajarkan tentang bagaimana pohon yang sesungguhnya harus bertumbuh dan berbuah. Hal ini dapat kita lihat dalam Injil Matius, dimana Tuhan Yesus mengajarkan tentang pohon yang baik dan pohon yang tidak baik. Diceritakan bahwa setiap pohon yang tidak baik akan menghasilkan buah yang tidak baik, demikian pula sebaliknya pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik. “Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api.” (Mat 7:19).

Tuhan Yesus menggambarkan bahwa manusia ibarat seperti pohon. Apakah manusia baik atau tidak, akan terlihat dari buahnya. Buahnya yang dapat terlihat adalah berupa tindakan, perkataan, pikiran yang dia keluarkan dan perbuat di dalam hidupnya. Sama seperti pohon, sangat diperlukan perawatan dan air yang cukup untuk memberikan kehidupan. Tentu saja kehidupan yang kekal sehingga pohon itu dapat hidup dan menghasilkan buah yang baik.

Lantas, perawatan yang seperti apakah yang dimaksudkan dalam konteks nas tersebut? Yesus mengatakan, “tetapi barangsiapa minum air yang Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya, air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalamnya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal.” (Yoh 4:14). Disini dengan jelas Tuhan Yesus juga mengajarkan bahwa, yang pertama kali harus kita lakukan sebagai pohon adalah mencari air kepada yang punya sumber air.

Kemudian, hal yang kedua adalah menjaga akar pohon kehidupan kita. Akar kita harus tertanam di sumber itu agar kita dapat bertumbuh. Akar berfungsi untuk menyalurkan air ke seluruh bagian pohon yang memerlukannya. Buah yang dihasilkan pun ditentukan dari seberapa cukup sumbangan yang diberikan akar untuk pohon menghasilkan buah. Dan yang ketiga, adalah sikap berserah jika ada dahan-dahan yang dipotong oleh pemilik kita. Dahan yang dipotong biasanya adalah dahan yang tidak mau berkembang, yang tidak mendapatkan perawatan yang layak, atau dahan yang terlalu berkembang sehingga memegahkan dirinya sendiri ke segala arah.

Tentunya tanggungjawab yang kita miliki sebagai pekerja kesehatan (dokter, perawat dan berbagai profesi kesehatan lainnya) punya tantangan yang tersendiri. Pada satu sisi, kita harus bertanggungjawab dalam memperhatikan perkembangan pohon hidup kesehatan orang banyak, dan disisi lain, kita juga harus merawat pohon kehidupan kita sendiri, supaya tetap bertumbuh, berkembang dan berbuah untuk memberi makna bagi orang lain. Disinilah letak keistimewaan yang kita miliki sebagai pekerja kesehatan; diberi berkat dalam profesi kesehatan dan menjadi berkat bagi kesehatan orang banyak.  

Tuhan Yesus mengajarkan dan sekaligus mengingatkan kita, agar kita juga senantiasa dapat merawat pohon kehidupan kita, dan dengan demikianlah kita juga mampu merawat pohon kehidupan sesama. Berakar pada Sang Sumber Air Hidup membuat pohon kehidupan kita tetap segar senantiasa segar dan berbuah lebat. Buah itulah yang akan terlihat di dalam setiap tanggungjawab profesi yang kita lakukan. Namun, kita juga harus senantiasa menjaga fungsi akar pohon kita agar tidak kering dan tetap dapat berbuah. Dan hal penting lainnya adalah, berserah penuh kepada Dia Sang Pemilik pohon kehidupan kita. Dia akan memangkas setiap bagian dari hidup kita yang tidak mau berkembang dan juga bagian yang berkembang secara liar ke segala arah untuk memegahkan diri. Kesombongan profesi yang kita miliki, melihat rupa dalam melayani sesama, adalah buah-buah dari bagian pohon kehidupan kita yang tidak diinginkan-Nya.

Dengan demikian, keistimewaan yang kita miliki sebagai pekerja kesehatan harus berbuah (menjadi berkat) bagi pohon kehidupan kita dan sesama. Hal tersebut harus didasari dan mengakar, bahwa Tuhanlah yang menjadi sumber dalam pohon kehidupan kita. Sehingga dalam hal itu jugalah pohon kehidupan kita berbuah, terlihat dan dapat dirasakan oleh orang lain – dalam profesi yang kita miliki sebagai pekerja kesehatan. Banyak hal di luar diri kita dapat memberikan pengaruh apakah kita akan menjadi pohon yang baik ataukah pohon yang tidak baik. Namun, kita perlu mengingatkan diri kita sendiri, darimanakah sumber dan siapakah yang merawat pohon kehidupan kita? Pohon yang baik akan memancangkan akarnya ke dalam tanah, mencari sumber air hidup, dan mendistribusikannya dengan baik sehingga menghasilkan buah yang baik. Apakah kita sudah merawat pohon kehidupan kita?

Topik doa:  Tuhan Yesus, saya menyadari kelemahan dan keterbatasan saya, Engkaulah yang menjadi sumber kehidupanku. Aku mau, Tuhanlah yang mengubahkan dan memberkati hidupku, untuk bertumbuh dan berbuah di dalam kasih-Mu.

Tuesday, August 23, 2011

Menjamah Di Dalam Kasih

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku” (Matius 25:40)

Bahan bacaan: Matius 25:31-40

Suatu ketika, penulis mengunjungi seorang pasien di sebuah rumah sakit swasta yang ada di Jakarta, dimana pasien tersebut adalah suami dari rekan kerja penulis sendiri. Dalam kunjungan tersebut, penulis bersama teman-teman yang hadir juga menyempatkan waktu untuk berbagi cerita mengenai kondisi dan perkembangan yang dialami pasien. Penulis bisa merasakan luapan emosi yang disampaikan oleh keluarga pasien tersebut. Semua berawal ketika pasien memeriksakan diri ke rumah sakit. Dalam diagnosa tersebut dokter dan perawat yang betugas lalai ketika memeriksa kondisi tubuh pasien. Diagnosa yang disampaikan adalah deman biasa dan batuk. Setelah pasien pulang, demannya tidak kunjung turun. Lantas, hal tersebut menimbulkan kecurigaan bagi rekan penulis. Setelah kembali memeriksakan pasien secara menyeluruh, maka kelihatan terdapat bintik-bintik merah pada seluruh kaki pasien. Dengan yakin rekan penulis tersebut menyampaikan bahwa tanda itu adalah gejala deman berdarah. Setelah dibuktikan dengan hasil tes laboratorium, maka pasien pun dinyatakan positif deman berdarah dan pasien baru kemudian dirawat secara intensif.

Kita sering mendengar terjadinya kelalaian dalam diagnosa pada pasien ketika hendak mendapatkan haknya, bahkan dalam hal ini penulis sendiri juga pernah mengalaminya. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan kelalaian tersebut. Mungkin karena dokter dan perawat yang sedang bertugas telah lelah bekerja, sehingga mereka kurang awas dan peka. Atau, bisa juga karena mereka masih dalam proses belajar dan praktek. Tentunya kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pekerja kesehatan (dokter, perawat dan berbagai profesi kesehatan lainnya) yang terkadang harus senantiasa siaga dalam menyediakan waktu, tenaga dan perhatian yang cukup untuk mereka yang harus dilayani.

Tindakan medis yang dilakukan oleh dokter dan perawat adalah sebuah kewajiban dalam profesi yang diemban. Dan jika hal tersebut tidak diperhatikan sungguh-sungguh, maka akan terjadi kelalaian, kesalahan medis, dan akan menimbulkan kerugian pasien. Bercermin dari pengalaman penulis di atas, Sang Tabib Agung telah menyatakan, “Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” Tentunya hal ini merupakan cermin bagi setiap orang yang bekerja dalam dunia sosial, khususnya bagi kita yang bekerja di bidang kesehatan. Sang Tabib senantiasa mengingatkan bahwa, dibutuhkan kerendahan hati dan sikap yang penuh kewaspadaan pada setiap tugas yang kita emban.

Dasar dan tujuan dari setiap tugas yang kita lakukan semata-mata bukanlah karena tuntutan profesi yang kita miliki sebagai pekerja kesehatan (dokter, perawat dan berbagai profesi kesehatan lainnya). Namun, dibalik semua itu kita percaya dan mengimani, bahwa semua pelayanan kesehatan yang kita berikan kepada sesama kita adalah ibadah sesungguhnya yang kita lakukan kepada-Nya. Dalam artian, jika kita menyadari bahwa siapapun yang kita layani – baik dalam kondisi dan status apapun – adalah bagian dari ibadah kita kepada-Nya, maka kita akan senantiasa berserah serta berjaga-jaga untuk tetap peka dalam melayani sesama. Terlebih lagi kepada mereka yang sangat membutuhkan jamahan kita.Tetap semangat mempermuliakan hidup.

Topik doa:
Roh Kudus, mampukan saya dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan pelayanan saya setiap hari. Dengan menjamah sesama kami di dalam kasih, sesungguhnya Engkau-lah yang kami jamah. Tuntun kami di dalam Khidmat-Mu agar kami senantiasa terjaga dan melakukan yang terbaik di dalam kasih. Amin.

Wednesday, August 3, 2011

Mata sehat untuk hidup berwarna dan penuh makna

Berita di salah satu media surat kabar menyebutkan bahwa, Indonesia menjadi salah satu negara dengan resiko kebutaan tinggi di dunia. Namun, sampai saat ini penanggulangan masalah kebutaan belum menjadi prioritas pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah (Kompas, kamis 23 Juni 2011). Tentu ini bukanlah kabar yang baik bagi masyarakat Indonesia, namun disisi lain informasi ini menjadi tantangan bagi pemerintah, khususnya masyarakat Indonesia agar senantiasa menjada pola hidup sehat, terlebih dalam menjaga kesehatan mata.

Tentunya hal ini menjadi keseriusan yang segera harus disikapi dalam tindakan pencegahan (preventif) dan juga disosialisaikan kepada masyarakat (promotif) seperti yang ditegaskan oleh Tjahjono Darminto Gondhowiarjo sebagai dokter spesialis mata yang menyatakan bahwa penyebab besar kebutaan di Indonesia adalah kebutaan katarak (52 persen). Paparan cahaya matahari yang mengandung sinar ultraviolet serta kurangnya nutrisi menjadi pemicu. Kebutaan jenis ini bisa direhabilitasi lewat operasi. Artinya, angka kebutaan di Indonesia bisa ditekan jika para penderita katarak bisa dioperasi.

Namun, besarnya biaya operasi adalah masalah yang harus dihadapi oleh masyarakat. Oleh sebab itu perlu kerjasama pemerintah dan swasta untuk bersama-sama menurunkan angka kebutaan tersebut. Hal yang paling sederhana tentunya adalah dengan mengkampanyekan kesehatan mata kepada generasi muda bangsa Indonesia sejak dini secara terus-menerus dan berkelanjutan (sustainable).

Seperti halnya yang diungkapkan oleh Sang Pemazmur, “Peliharalah aku seperti biji mata-Mu, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu (Mazmur 17:8).” Pemazmur menggunakan biji mata sebagai lambang yang mengingat kembali kasih dan perhatian Allah terhadap umat-Nya yang setia. “Biji mata" adalah metafora Ibrani yang menyatakan sesuatu yang sangat bernilai dan disayangi. Tentunya, mata sebagai bagian dari tubuh adalah sesuatu yang sangat berharga bagi kita, terlebih bagi Dia Sang Empunya hidup.

Tiada hal lebih yang dapat kita lakukan untuk mata kita selain memelihara dan merawatnya. Mari menjaga kesehatan mata kita, untuk hidup yang lebih berwarna dan penuh makna. Sebab, dari mata yang sehat kita juga bisa memberi arti, paling tidak melalui promosi kesehatan yang dapat kita berikan bagi sesama. Namun, kepedulian untuk berbagi bagi setiap orang yang mengalami kebutaan juga merupakan hal yang sangat mulia dan sangat dibutuhkan oleh masyarakat Indonesia saat ini.

Semoga motivasi yang kuat dan pelayanan kesehatan yang penuh kasih dan pengorbanan tetap menjadi dasar bagi seluruh lembaga pelayanan kesehatan, untuk mengatasi kebutaan di Indonesia. Selamat mempermuliakan hidup. Salam holistik

Keluarga Bertanggungjawab

Dalam kitab Ulangan 11:19 jelas dikatakan, “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.”

Sejarah bangsa Ibrani memperlihatkan bahwa orangtua harus rajin mengajar anak-anaknya menuruti jalan dan firman Tuhan demi untuk pertumbuhan rohani dan kesejahteraan mereka. Ayah yang taat kepada perintah-perintah dalam Firman Tuhan akan melakukan hal ini. Kepentingan utama dari ayat ini adalah anak-anak didewasakan dalam “ajaran dan nasehat Tuhan” yang adalah merupakan tanggung jawab orangtua dalam rumah tangga.

Salah satu bentuk pendidikan awal yang diajarkan oleh orangtua kepada anak adalah mengenai pentingnya pola hidup sehat di dalam keluarga; yaitu kesehatan mental dan spiritual pada anak. Sebab, banyak orangtua yang menganggap bahwa kesehatan mental dan emosi adalah hal yang sepele dan tidak terlalu penting diajarkan bagi anak-anak. Implikasinya adalah, anak menjadi rentan dan mudah mengalami gangguan dan ketidakstabilan emosi, khususnya ketika anak akan bertumbuh ke tahap remaja dan dewasa.

Banyaknya kasus pencucian otak oleh kelompok tertentu yang dilakukan kepada anak (orang muda) beberapa waktu yang lalu adalah salah satu bentuk lengahnya perhatian orang tua dalam memonitoring pertumbuhan mental anak. Seperti yang dituturkan oleh dr Surjo Dharmono, SpKJ (K), bahwa pencucian otak adalah proses pembelajaran yang dilakukan dalam tekanan dan dilakukan secara terus-menerus sehingga tercipta pandangan hidup yang salah. "Karena proses pembelajarannya salah, akan tercipta pola yang salah, dan ini akan menimbulkan perasaan kacau dan labil bagi orang yang menerima pembelajaran itu.” (http://health.kompas.com/kamis/5/5/2011)

Dengan kata lain, dr Surjo menekankan pentingnya perhatian orangtua di dalam keluarga untuk turut serta mendidik dan juga memonitoring kesehatan mental anak agar dapat bertumbuh dan berkembang dengan baik. Sebab, tidak dapat dipungkiri bahwa keluarga, khususnya orang tua punya peran yang sangat besar dalam pertumbuhan mental anak tersebut. Seperti halnya yang telah dinyatakan dalam kitab Ulangan 11 di atas, bahwa mendidik anak adalah proses yang dilakukan senantiasa di dalam keluarga; baik ketika sedang duduk bersama di rumah; sedang dalam perjalanan; sedang berbaring dan juga setelah bangun. Kedekatan dan kehangatan yang dibangun di dalam keluarga adalah tanggung jawab yang sangat mahal harganya.

Oleh karena itu, mari membangun keluarga yang holistik untuk bertumbuh dan berkembang dalam kedewasaan penuh di dalam kasih Kristus; mari mendidik dan memonitoring kesehatan mental dan spiritual anak di rumah dan keluarga kita. Selamat mempermuliakan hidup. Salam holistik.

Sunday, March 27, 2011

Paskah: Sebuah Panggilan Kesadaran

(Permenungan memaknai paskah dalam pikiran dan perbuatan yang tersalib)

Pendahuluan
“Tidak ada gagang pada salib”, inilah bentuk ungkapan iman yang dituliskan oleh DR. Kosuke Koyama dalam bukunya, sebagai dasar permenungan mengenai pikiran yang disalibkan di Asia. Permenungan ini juga yang nantinya akan kita pakai sebagai cermin dalam melihat bagaimana memaknai paskah sebagai panggilan kesadaran ke-Kristenan kita menghadapi perubahan zaman di era milenium ke tiga ini.

Permenungan dalam menghayati perayaan paskah sebagai bentuk liturgi ke-Kristenan adalah waktu yang tepat dalam menjawab panggilan kesadaran kita sebagai umat-Nya. Sebab, paskah adalah proses permenungan iman setiap orang, untuk menyadari pengorbanan yang telah dilakukan Yesus Kristus di kayu salib dalam memberikan pertolongan keselamatan hidup kepada seluruh dunia.

Permenungan yang dilakukan dalam perayaan paskah adalah permenungan yang mengarah kepada dua aspek, yaitu vertikal dan horizontal. Permenungan vertical maksudnya adalah permenungan dalam sisi ke-iman-an kita. Bagaimana kita dapat melakukan penghayatan dalam memaknai pengorbanan Kristus di kayu salib. Sehingga dengan penghayatan tersebut kita benar-benar bisa memahami bagaimana sebenarnya kemanusiaan kita merasakan apa yang dirasakan-Nya. Artinya, ada konsekuensi iman yang harus berani kita ambil dan lakukan jika kita mengatakan bahwa kita adalah murid-Nya. Konsekuensi iman itu adalah totalitas sikap yang lahir dari penghayatan kita yang tulus dalam memikul salib-Nya.

Sedangkan permenungan horizontal adalah permenungan dalam sisi peran atau perbuatan kita terhadap semua mahluk ciptaan-Nya di seluruh dunia ini. Sisi peran ini adalah bagian yang tidak terlepas dari sisi ke-iman-an kita. Sebab, kedua hal ini dapat berjalan jikalau keduanya mendapat tempat yang sama; sejajar, di dalam hati dan pikiran kita. Tidak ada yang saling mendominasi, tetapi keduanya harus saling menyeimbangkan; saling melengkapi satu dengan yang lain.

Jika kedua hal itu telah menjadi sebuah permenungan yang mendasar dalam kehidupan ke-Kristenan kita, maka panggilan kesadaran kita sebagai bagian dari diri-Nya adalah sebuah tanggungjawab kehidupan. Artinya, ke-Kristenan kita tidaklah menjadi hal yang berarti jika hanya melakukan permenungan saja dalam ritus-ritus ke-iman-an kita, baik secara personal maupun komunal. Akan tetapi, permenungan itu akan menjadi berarti jika ada tindakan aktual (sikap nyata seperti kasih yang dilakukan Yesus sewaktu di dunia) dalam diri kemanusian kita (yang juga adalah sosial), untuk kita nyatakan kepada orang lain sebagai bentuk keselamatan yang telah kita terima.

Akan tetapi, hal penting yang sekarang harus kita sadari adalah, apa dasar permenungan kita dalam menguji panggilan ke-Kristenan kita? Benarkah kita telah melakukan permenungan paskah yang sebenarnya? Inilah panggilan yang akan kita jawab dalam memaknai perayaan paskah sebagai bagian dari ibadah panggilan ke-Kristenan kita. Dengan demikian, benarlah bahwa perayaan paskah yang kita lakukan dan maknai ini adalah sebuah perayaan kesadaran iman. Kesadaran iman itu adalah salib yang harus kita pikul setiap saat dan terus berjalan mengikut Dia.

Salib adalah kesadaran penyangkalan diri.
Lambang dari penyangkalan diri adalah salib. Penyangkalan diri harus diungkapkan dalam lambang yang dapat dikenal; dilihat umum. Memikul-mikul salib di depan umum adalah suatu tontonan yang ganjil. Alangkah berat, janggal dan memalukan memang memikul salib itu mengikut Dia. Akan tetapi itulah yang Dia minta kepada kita, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku” (Mat. 16:24). Permasalahannya sekarang adalah, mengapa harus salib, mengapa tidak rantang yang berisi makanan saja? Rantang adalah hal yang menarik dan istimewa, berisi makanan bergizi dan bentuknya ada yang berwarna-warni. Rantang adalah beban yang tidak berat, punya pegangan/ gagang istimewa dan mudah menentengnya. Dengan menenteng rantang yang penuh makanan bergizi kita dapat saja bersiul dan berjalan enjoy tanpa harus terbeban. Sungguh hal yang sangat berbeda sekali dengan salib bukan!

Salib tidak punya gagang, sedangkan rantang makanan punya gagang. Baiklah kita melakukan permenungan sejenak seperti meditasi pikiran dan perbuatan yang dilakukan Koyama. “Gagang” berarti alat yang efisien untuk menguasi sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Mobil yang punya mesin bertenaga kuda dapat kita kita kendalikan hanya dengan memegang sebuah gagang (setir). Pintu juga dapat kita kuasai secara mudah hanya dengan memegang gagangnya. Semua kecanggihan ini adalah perkembangan teknologi yang menghasilkan tenaga (kuat/kuasa) dan gagang kendali. Sehingga, teknologi adalah tenaga yang dikendalikan. Teknologi yang diartikan dalam arti ini tidaklah berbahaya tetapi yang berbahaya adalah jika pemahaman seperti ini dipakai dalam teologia. Bayangkan jika aspek ke-iman-an kita di berikan kemudahan “gagang” untuk dilakukan, tentunya manusia tidak lagi membutuhkan Allah. Karena, kecanggihan gagang yang ditonjolkan adalah kuasa (kendali) manusia itu sendiri dan bukan Allah.

Koyama menegaskan bahwa perbedaan pokok antara teknologi dan teologia adalah bahwa teknologi memberi kita “mesin” dan “gagang”, sedangkan teologia hanya punya “mesin” tanpa “gagang”. Teologia yang memasang gagang pada kuasa Allah adalah penghianatan dan bersifat demonis. Teologia harus menolak untuk mengendalikan kuasa Allah yang menyelamatkan. Dengan demikian, teologia juga tidak boleh mengendalikan manusia.

Dengan kata lain, pikiran yang terlatih memikul beban salib “tanpa gagang” dinamakan pikiran yang disalibkan. Pikiran yang bersemangat perang salib haruslah ditempatkan di bawah terang pikiran yang disalibkan, supaya pikiran itu “disalibkan dan bangkit.” Itulah sebabnya mengapa Yesus tidak mengatakan “.....biarlah dia yang menojolkan dirinya, menenteng rantang makanan dan mengikut Aku”. Sebab, daya pikir manusia hanya penuh inisiatip (rantang yang sangat modern itu) haruslah disalibkan. Apabila daya pikir seperti itu bangkit, maka ia menjadi daya pikir yang sudah dibaptis secara teologis.

Paskah adalah panggilan kesadaran.
Dengan demikian, gambaran yesus yang memikul salib berat tanpa gagang adalah gambaran misiologi yang matang dan tepat. Sehingga dibawah terang inilah kita cari arti teologis dari situasi dan kondisi yang terjadi pada hidup pribadi dan juga bangsa kita sehari-hari. Inilah panggilan kesadaran yang ingin disampaikan Yesus kepada semua orang, bahwa jalan salib sebagai pilihan bukanlah pikiran yang sakit-sakitan dan jalan kematian. Pikiran seperti itu bukanlah pikiran yang ingin mengadakan transaksi dagang dengan Allah. Akan tetapi, pikiran itu adalah pikiran yang muncul karena dorongan teologis yang lahir dari panggilan kesadaran iman kita. Pikiran itu jujur dan hati-hati. Itulah pikiran yang mau percaya dan mengikuti panggilan kesadaran untuk melakukan apa yang Dia mandatkan kepada kita di dunia ini.

Jika kita telah dapat menghayati permenungan perayaan paskah sebagai sebuah panggilan kesadaran baru seperti yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, maka kita dapat memaknai paskah yang sesungguhnya. Sebab, perayaan paskah bukanlah seremoni atau ritus-ritus ibadah yang dijalankan, dan disusun indah dalam sebuah liturgi. Akan tetapi, paskah adalah permenungan dalam menghayati panggilan kesadaran pribadi kita untuk memikul salib sebagai bukti keselamatan hidup. Kemudian, permenungan peran (sikap dalam tanggungjawab sosial) dalam tindakan kita sehari-hari adalah perayaan paskah yang sesungguhnya. Pikiran yang tersalib dalam panggilan kesadaran kita akan mengalirkan energi yang positif dan akan membangun sikap/mental kita yang adaptif terhadap semua tantangan (baik bentuk kemudahan dalam budaya masyarakat kita yang sangat konsumptif, serta pikiran-pikiran pragmatis yang ditawarkan oleh kecanggihan teknologi sebagai solusi praktis) dalam setiap perubahan zaman.

Semoga perayaan paskah yang kita rayakan dengan permenungan dan ketulusan sikap akan menumbuhkan penghayatan dan kedewasaan sikap dalam menjawab setiap panggilan kesadaran ke-Kristenan kita, kapanpun dan dimanapun. Selamat Paskah.

Sunday, March 20, 2011

Pemuda dan Oikumenisme

A. Pengantar
Pembahasan mengenai Pemuda dan Oikumenisme adalah pembahasan yang tidak akan pernah habis atau selesai diperbincangkan dalam setiap diskusi atau PA. Bahkan dari diskusi yang satu, akan memunculkan kegelisahan dan semangat yang baru untuk segera disikapi. Sebab, berbicara mengenai pemuda dan oikumenisme tidak bisa dilepas-pisahkan dari sejarah masa lalu, masa sekarang dan masa yang akan datang. Dalam artian, pemuda dan oikumenisme adalah pembahasan yang akan terus menerus mengalami proses pencarian hakekat yang sesungguhnya – berkelanjutan (sustainable) dan memberi makna dengan berbagai cara kepada setiap orang-orang yang mencarinya.

Bung Karno pernah berkata, “Apabila di dalam diri seseorang masih ada rasa malu dan takut untuk berbuat suatu kebaikan, maka jaminan bagi orang tersebut adalah tidak akan bertemunya ia dengan kemajuan selangkah pun.” Lantas, apa yang mesti kita lakukan sekarang ini? Bagaimana memperbaiki keadaan? Kewajiban siapakah ini? Tentu ini adalah kewajiban kita semua, terutama kewajiban kaum muda. Ya, kita para pemuda. Karena hanya pemudalah yang memiliki semangat yang meluap-luap. Dan, urusan besar ini membutuhkan energi besar, yaitu energi kaum muda. Akan tetapi, masa sekarang ini kita juga harus jujur mengakui keberadaan kita sebagai pemuda, khususnya sebagai kader GMKI. Kita mengalami kemerosotan yang sangat berdampak kepada integritas, profesionalitas dan solidaritas terhadap organisasi dan bangsa ini (lihat paparan sub tema GMKI yang ditetapkan pada Kongres XXXII tahun 2010 di Makasar).

Pada masa sekarang pemuda menghadapi tantangan yang sangat besar, baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Salah satu tantangan yang muncul dari dalam adalah virus mentalitas mie instant yang sudah menjangkiti tubuh pemuda sehingga merosotnya idealisme, iman, rasa percaya diri, serta harapan. Hal tersebut dapat kita ukur dari kuantitas dan kualitas dari integritas, profesionalitas dan solidaritas yang dimiliki pemuda hingga sekarang ini, masih sangat minim. Kemudian, pemuda juga menghadapi tantangan dari luar yang tidak kalah hebatnya dalam arus deras globalisasi atau yang sering kita sebut kekagetan perubahan budaya (cultural shock). Bagaimana mungkin kita bisa menghadapi persaingan dalam sebuah kompetisi global jika kita tidak memiliki SDM yang berkualitas? Mengapa penulis mengingatkan hal ini? Supaya kita sebagai pemuda menyadari kelemahan dan kekuatan yang kita miliki. Pemuda dapat mengembangkan potensi dirinya hanya jika pemuda itu sendiri mau mengenali, mengembangkan dan memberdayakan seluruh potensi dirinya tersebut. Jika tidak, maka pemuda akan terus terpuruk dan lambat laun akan hancur tergilas dalam perubahan zaman.

Albert Camus mengatakan, “At 30 a man should know himself like the palm of his hand, know the exact number of his defect and qualities, know how far he can go, foretell his failures – be what he is. And, above all, accept these things.” Seorang berusia 30 tahun, semestinya sudah mengetahui segala sesuatu tentang dirinya; tentang kekurangan, dan kelebihannya; tentang apa yang dapat dicapainya, dan apa yang dapat menyebabkan kegagalannya. Di atas segalanya, ia dapat menerima dirinya, pun menerima apa yang telah di jelaskan di atas (Albert Camus, French Author/Philosopher, Recipient of 1957 Nobel, Prize For Literature).

Masa muda yang disia-siakan untuk mengejar hal-hal yang tidak penting – kekayaan, kekuatan, dan kekuasaan yang tidak disertai oleh kebijaksanaan diri – dan ditambah dengan tiadanya kemampuan untuk memilah akan mengarah pada kehancuran manusia. Untuk itu, maka pemuda sangat membutuhkan tuntunan Roh dan Hikmat Tuhan dalam mengembangkan dirinya menjadi pemuda yang memiliki integritas, profesionalitas dan mampu bersolidaritas dalam melihat tanda-tanda zaman. Sehingga, dengan cara demikian jugalah selanjutnya oikumenisme diharapkan dapat menjadi suatu kekuatan yang positif untuk mendorong perwujudan fungsinya di tengah-tengah hidup pemuda sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Tuntunan Roh dan hikmat-Nya merupakan pelita dan terang hidup bagi pemuda dalam menghadapi tantangan zaman. Tanpa Roh dan hikmat-Nya maka pemuda akan tersesat dan mengalami ketidakjelasan (disorientasi) sikap. Contoh nyata yang terjadi adalah seperti halnya kemandegan dan ketidakjelasan yang terjadi pada oikumenisme, sebagai bagian dari tri tugas panggilan gereja (bersekutu, bersaksi dan melayani). Ketidakhadiran semangat oikumenisme dalam pengembangan pemuda selama ini mengakibatkan terjadinya pemaknaan yang kabur terhadap oikumenisme pada diri pemuda. Sehingga, pemuda sebagai bagian dari gereja yang tersamar (in cognito) tidak mengerti, bahkan tidak mengenal apa dan untuk apa oikumenisme itu hadir.

Oikumenisme atau semangat oikumene (hidup bersama; berdiam bersama dalam terang Kasih Kristus) adalah semangat bergereja yang esa sesungguhnya (band. Yohanes 17:21). Maka seyogianyalah semangat itu harus terus mengalir dan mengisi gerakan pemuda. Karena, komunikasi oikumenis atau keesaan ini tidak hanya terbatas dalam upaya menjemaatkan keesaan, tetapi juga dalam menciptakan kesempatan dan kemungkinan melalui program-program yang konkrit untuk bertumbuh dan berkembang dalam kebersamaan. Oikumenisme itu bukanlah sesuatu yang statis atau hanya terbatas pada penampakan struktural. Untuk itu, perlu sebuah upaya bagaimana mengembangkan keseimbangan konseptual dan praksis untuk memberi ruang gerak, kepada mereka yang bertugas dalam institusi gerejawi (termasuk PGI, KWI, PGPI, PGII, dsb.) untuk mengakui keesaan tersebut. Sebab, Gereja-gereja protestan yang ikut dalam Sidang Raya PGI XII tahun 1994 di Jayapura telah menyepakati dan mengakui bersama Lima Dokumen Keesaan Gereja (LDKG) sebagai dasar untuk melihat dan mengalaminya sebagai sesuatu yang dinamis, dan karena itu kita memahaminya dalam rangka membaharui, membangun, dan mempersatukan Gereja. Termasuk di sini cara berpikir teologis-historis. Akan tetapi bagaimana aksi-nyatanya?

Inilah tugas dan tanggungjawab kita bersama sebagai pemuda. Pada satu sisi kita harus mengembangkan diri pribadi dengan semua potensi yang ada, dan di sisi lain kita juga harus terlibat dalam tugas dan tanggungjawab sosial kita sebagai pemuda Gereja yang oikumenis. Pemuda sebagai bagian Gereja yang tersamar (in cognito) sangat diharapkan mampu menjadi seorang Daniel trasformatif, yang senantiasa menjaga kekudusan diri dengan hormat akan Tuhan dalam menghadapi tantangan pada zamannya. Sehingga dalam ikhtiar tersebut pemuda juga akan dimampukan untuk dapat belajar dan mengembangkan diri dalam tuntunan Roh dan hikmat Tuhan untuk adaptif dalam mengetahui tantangan dalam perubahan zaman yang sangat cepat ini.

Maka untuk mengantisipasi hal tersebut setidaknya pemuda harus melakukan upaya yang holistik. Pertama, jangan menyia-nyiakan masa mudamu. Otakmu, pikiranmu, hatimu, ragamu, pancaindramu adalah alat-alat yang masih fresh, baru dan dalam keadaan paling baik untuk menerima Roh dan Hikmat Tuhan. Kau adalah transreceiver generasi mutakhir, sehingga potensimu pasti berbeda dengan orang yang sudah tua-renta. Janganlah mencemari otakmu dengan makanan yang tidak bergizi. Bebaskan dirimu dari perangkap mi instant. Makanlah sayuran dan buah-buahan yang bergizi supaya kau dapat berpikir lebih jernih dan berkarya dengan baik dalam semangat oikumenis untuk membangun bangsa ini. Jangan kau kira ini adalah hal sepele? Tidak. Ini hal penting. Makanan adalah bahan bakar yang dibutuhkan oleh badan dan otak supaya dapat bekerja dengan baik (baca dan renungkan kisah yang dialami oleh Daniel ketika ia belajar mengembangkan potensi dirinya pada masa itu).

Kedua, bukalah wawasan; kenali kelemahan dan kekuatan diri. Ingatlah apa yang dikatakan oleh Albert Camus di atas. Sudah saatnya kau keluar dari zona nyamanmu dan berusaha sekuat tenagamu untuk terus belajar di alam semesta kehidupan ini dengan sungguh-sungguh. Karena masa muda itu tidak pernah terulang lagi, berlalu sekali maka berlalu selamanya. Tinggalkanlah kebiasaan buruk yang selama ini merugikanmu. Berilah kebebasan pada pikiranmu yang masih fresh itu. Sebab di luar negri sana, semua orang sudah belajar dan melakukan distance learning, peer-to-peer, dan berbagai macam on-line training lain. Bagaimana dengan dirimu pemuda? Negara maju sudah menggunakan kemajuan teknologi secara on-line, dan arus tersebut tidak bisa dibendung. Oleh sebab itu, persiapkanlah dirimu menghadapi kompetisi tersebut.

Ketiga, mampulah memilah. Kemampuan untuk memilah adalah sesuatu yang sudah kita warisi sejak lahir. Setidaknya kita sudah memiliki potensi itu. Selanjutnya tinggal dikembangkan supaya tidak berkarat. Potensi itu harus terus dikembangkan, dan mintalah Roh dan Hikmat Tuhan hadir atasmu, supaya Tuhan jugalah yang memberi dan memberkati pertumbuhan dan perkembangan hidupmu. Supaya kau menjadi semakin berhikmat, mampu berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah keadilan dunia ini. Keempat, tetaplah waspada dalam kesadaran. Masa tua kita tergantung pada kewaspadaan dan kesadaran yang telah dikembangkan pada masa muda. Investasi kewasapadaan dan kesadaran mesti dilakukan saat kita masih muda. Hal itu ibarat menanam benih, masa muda adalah masa tanam. Masa tua adalah masa panen. Sebab masa muda menyediakan iklim yang tepat dan energi yang sangat kuat untuk bercocok tanam. Bila masa itu terlewatkan, sia-sialah masa tua kita. Jangan mengharapkan panen.

Wahai para pemuda, ingatlah keempat hal tersebut dan janganlah takut. Sebab, karena takut dan keraguan, banyak pemuda yang tidak menjalani kata hati mereka. Mereka mengabaikan suara nurani dan iman percayanya, hingga menyesal kemudian hari. Pintar-pintarlah mengenali, mengembangkan dan memberdayakan potensi dirimu. Tetaplah semangat dan janganlah pernah menyerah. Teruslah belajar dengan sungguh dan bekerja sekuat tenagamu. Sebab, itulah kesempatan yang kita miliki pada masa muda sekarang ini. itulah kesempatanmu. Kesempatan yang kau ciptakan sendiri dengan kreativitasmu. Belajarlah dari organisasi dan kampus. Ciptakan organisasi di dalam kampus; organisasi-organisasi untuk melayani sesama dan membantu mereka yang membutuhkan bantuan dalam semangat oikumenis. Bawa dan beritakanlah semangat oikumene tersebut kepada sesama dan alam semesta. Belajarlah menggalang dana dengan mengembangkan kreativitas diri, jangan bergantung pada donasi. Dengan demikian, kau tidak membutuhkan stempel dari masyarakat untuk membenarkan agamamu. Teruslah mendorong solidaritasmu sebagai pemuda dalam semangat oikumene yang bisa memuaskan semua orang, semua kelompok. Itulah cara untuk melakoni agama dan menunjukkan perbuatan imanmu. Ut omnes unum sint.

B. Diskusi dan Permenungan
Bacalah dalam permenungan kisah yang di alami oleh Daniel dalam kaca mata imanmu saat ini? (Pasal 1; jika kau mau belajar seperti daniel bacalah seluruh kisahnya) bagaimana hidup Daniel bertahan dan tidak kehilangan harapan dalam masa-masa yang penuh kesulitan dan penderitaan walaupun mereka ditengah-tengah bangsa asing.

C. Doa Bersama
“Ya Tuhan, urapilah kami dengan kuasa Roh dan Hikmat-Mu, supaya kami mampu belajar dan berpuasa seperti Daniel.” Berdoalah dan mintalah penyertaan Tuhan dengan ketulusan dan kerendahan hati. Supaya Tuhan memberkati pertumbuhan dan perkembanganmu sebagai pemuda yang bijaksana, yang memiliki integritas, profesionalitas dan bersolidaritas. Amin.

(Tulisan ini disampaikan sebagai bahan buletin PA yang dilaksanakan PP GMKI MB.2010-2012)

Tuesday, December 14, 2010

Tema dan Sub Tema GMKI

Tema :
Jadilah berhikmat! Berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan
(Amsal 8:1-21).

Sub tema:
Mendorong Solidaritas Bangsa Untuk Memperjuangkan Kebenaran, Keadilan dan Kesejahteraan Dalam Mewujudkan Kemerdekaan Indonesia Secara Bermartabat.

I. Pengantar
Dalam setiap Kongres, tema ditetapkan sebagai landasan penatalayanan GMKI yang menjiwai seluruh gerak internal maupun eksternal organisasi. Tema adalah gambaran dari seluruh realitas dalam trimatra pelayanan (gereja, perguruan tinggi, dan masyarakat) yang dirumuskan berdasarkan pertimbangan dan hasil analisa pada konteks pergumulan GMKI. Oleh sebab itu tema haruslah merupakan abstraksi realitas sekaligus seruan profetis yang berisi sikap, posisi dan harapan GMKI terhadap kehidupan sosial.

Subtema merupakan penjabaran tema dalam konsep operasional, yang sifatnya akumulatif untuk memberikan tuntunan bagi perumusan program, dengan memuat gagasan tentang berbagai aspek kehidupan yang menjadi sasaran aktualisasi pelayanan GMKI. Aspek-aspek yang digagas dalam subtema merupakan pilihan sadar untuk menjadi media pengejawantahan tema.

II. Kajian Teologis Tema
Jadilah berhikmat! Berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan (Amsal 8:1-21).

Kitab Amsal adalah bagian dari Kanon, karena itu sama otoritasnya dengan kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain. Seluruh pengajaran dalam Kitab Amsal adalah “firman Allah”. Pengajaran itu mengandung penyataan Allah, merupakan kesaksian tentang Allah dan kehendak Allah. Seluruhnya penting bukan hanya bagi orang Israel dulu tetapi juga bagi orang Kristen pada zaman ini. Dengan demikian, semua orang Kristen perlu mempelajari Kitab Amsal, baik orang muda maupun orang tua, yang kurang berpendidikan atau berpendidikan tinggi, yang berpengalaman atau tidak berpengalaman, bahkan para guru atau pengajar gereja (Sinulingga, 2010).

Kitab Amsal menekankan pengajaran yang akan membawa seseorang kepada sikap hidup yang “takut akan Tuhan”, sikap hidup yang amat dibutuhkan ditengah-tengah dekadensi moral yang umumnya terjadi dalam masyarakat Indonesia. Karena sikap hidup “takut akan Tuhan” adalah langkah pertama dan elemen utama semua pengetahuan dan ilmu pengetahuan (Ams. 1:7). “Takut akan Tuhan” harus menjadi pemandu bagi setiap orang yang mencari atau mengaplikasikan pengetahuan dan ilmu pengetahuan, bahkan “takut akan Tuhan” itu menjadi karakteristik moralnya.
Kitab Amsal, Ayub, dan Pengkhotbah, merupakan bagian dari tulisan-tulisan hikmat pada Perjanjian Lama. Menurut tradisi orang Yahudi, sesuai dengan kata-kata yang tercantum dalam Amsal 1:1a, kitab ini ditulis Raja Salomo. Memang, bagian dari isi kitab tersebut berasal dari masa Kerajaan Israel kuno, bahkan kemungkinan besar dari Raja Salomo, yang menggunakan bermacam-macam bahan (lih. 1 Raj. 3-5). Tetapi, dengan disebutkannya macam-macam penulis, selain Raja Salomo, dalam perikop tertentu dari Kitab Amsal (Ams. 1:1; 10:1; 22:17; 23:23; 25:1; 30:1; 31:1), jelaslah bahwa kitab ini merupakan koleksi dari aneka ragam tulisan dan penulis. Sinulingga (2010) juga menegaskan bahwa berdasarkan hasil penelitian terhadap konsep hikmat dan bahasa Ibrani dalam Kitab Amsal, ternyata bahwa kitab ini tidak mungkin seluruhnya ditulis pada satu masa, apalagi oleh seorang saja. Tidaklah seluruh bagian kitab ini berasal dari masa Kerajaan, tetapi sebagian dari masa sebelum Kerajaan (sekitar abad ke-12 s/d 10 sM.), yang lainnya dari masa Pembuangan (sekitar abad ke-7 sM.) dan sesudah Pembuangan (sekitar abad ke-6 sM.).

Kitab Amsal berisi bahan pendidikan tradisional yang digunakan oleh umat Israel sejak masa sebelum Kerajaan sampai sesudah Pembuangan. Sebagian kitab yang berisi bahan pendidikan bagi salah satu bangsa di Timur Tengah Kuno, tentu kitab ini mempunyai banyak persamaan dengan bahan pendidikan bangsa-bangsa lain di wilayah tersebut. Tetapi sistuasi dan kondisi, terutama konsep keagamaan umat Israel yang berbeda dengan bangsa-bangsa lain, memberi warna khusus kepada Kitab Amsal. Dapat diduga bahwa bahan pendidikan dari Timur Tengah Kuno mempengaruhi kitab ini, tetapi bahan itu terlebih dahulu mengalami penyesuaian keagamaan umat Israel. Itulah yang membuat kitab tersebut memiliki kekhasan bila dibandingkan dengan kitab pendidikan bangsa-bangsa lain tersebut. Sebagai contoh, konsep keagamaan Israel Kuno yang mempengaruhi kitab Amsal, amat berbeda dengan konsep keagamaan filsafat Yunani, yang sudah mulai populer dan berpengaruh terhadap bahan pendidikan Helenistik pada masa penulisan Kitab Amsal.

Bahan pendidikan Israel ini selalu bersifat teologis. Kadangkala, bahan pendidikan yang terdiri dari pengajaran hikmat itu, merupakan bahasan teologi yang sistematis, kerap pula berisi ulasan etis, dan yang paling sering mengenai perilaku yang amat praktis. Ketiganya, secara langsung atau tidak, tentu didasarkan kepada agama Israel. Pengajaran hikmat yang teologi-sistematis, maupun yang etis, dan amat praktis ini mengandung penyataan Allah. Melalui pengajaran itu Allah berbicara bukan hanya kepada orang Israel tetapi juga kepada orang Kristen. Karenanya, kedua jenis pengajaran ini berguna sebagai pedoman, terutama dalam kehidupan sehari-hari umat Israel, dan juga bagi orang Kristen dewasa ini. Sehingga, Kitab Amsal sekarang pun masih perlu dipelajari untuk dihidupi sebagai pedoman hidup dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman yang terus berlangsung.

Amsal 8:1-36 berisi pengajaran tentang hikmat yang membujuk. Pengajaran yang bersifat membujuk itu langsung diucapkan oleh hikmat. Sinulingga (2010) mengungkapkan, bahwa melalui kalimat-kalimat perintah, motif dan deskriptif pada Amsal 8:1-36, disampaikan khotbah hikmat berbentuk janji dan bujukan si hikmat. Penekanan utama terletak pada nilai yang tinggi dan berkat yang diberikan hikmat. Pengajaran ini diawali oleh pendahuluan yang berisi perkenalan dari diri hikmat (ay. 1-3), dilanjutkan oleh panggilan hikmat (ay. 4-9), kemudian penjelasan tentang nilai, kekuatan, berkat hikmat (ay. 10-21), dan eksistensi serta peran hikmat itu sebelum dunia dijadikan (ay. 22-31) lalu ditutup dengan kesimpulan (ay. 32-36).

Selajutnya, Amsal 8:10-21 berisi pengajaran mengenai nilai (ay. 8-11), kekuatan (ay. 12-16), dan berkat hikmat (ay. 17-21). Pengajaran ini merupakan penjelasan lanjutan dari panggilan hikmat pada perikop sebelumnya. Panggilan hikmat yang dipersonifikasi perlu didengarkan bukan saja karena pengajarannya adalah pelajaran moral yang berguna bahkan mulia, tetapi juga karena alasan lain, yaitu nilai dan kekuatannya, serta berkatnya yang sama dengan berkat Tuhan.

Pengajaran tentang nilai hikmat yang melebihi segala sesuatu disampaikan melalui kalimat perintah (ay.10), yang diperkuat oleh kalimat motif pada ayat 11. Istilah yang digunakan dalam perikop ini adalah “didikan” (musar), “pengetahuan” (da’at) dan “hikmat” (khokma). Istilah “didikan” digunakan untuk disiplin moral yang memampukan seseorang untuk menertibkan hidupnya. Sedangkan pengetahuan dan hikmat adalah dua istilah yang berbeda, tetapi mempunyai makna yang sama. Keduanya merupakan istilah umum untuk hikmat dan pengetahuan; bisa dalam konotasi ketrampilan dan kemampuan teknis, tetapi bisa juga dalam konotasi agama atau kualitas moral. Sehubungan dengan pembahasan sebelumnya, kedua istilah ini harus dipahami dalam makna yang terakhir. Yang mau dikatakan guru hikmat adalah pengajaran moral dari si hikmat yang dipersonifikasi lebih berharga dari perak, emas pilihan, dan permata, bahkan melebihi semua yang diinginkan orang (ay. 11).

Amsal 8:12-16 mengungkapkan tentang kekuatan hikmat yang luar biasa. Melalui kalimat deskriptif diterangkan bahwa hikmat memberi kekuatan kepada manusia, termasuk para pembesar seperti hakim dan raja-raja, untuk melaksanakan tugasnya. Alasan lain untuk mendengarkan panggilan hikmat adalah agar mendapatkan kekuatan yang dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Dikemukakan melalui kalimat deskriptif pada ayat 12 bahwa hikmat yang dipersonifikasi ini mempunyai kekuatan khusus, sesuai dengan jenis pengetahuan yang ada padanya.

Jadi hikmat yang dimiliki dan yang diajarkan oleh hikmat yang dipersonifikasi tentulah berhubungan dengan pengajaran moral. “Takut akan Tuhan ialah membenci kejahatan” (ay. 13a) adalah tujuan yang mendasar dari suatu agama. Kepercayaan dan penyembahan yang benar serta ketaatan terhadap undang-undang dalam agama tersebut tidak mungkin dilakukan tanpa membenci kejahatan. Dalam ayat 13b keempat istilah ini diletakkan pada posisi bertentangan dengan “kejahatan”, kesombongan”, “kecongkakan”, tingkahlaku yang jahat”, dan “mulut tipu muslihat”. Karena itu, dapat diduga bahwa hikmat yang dimaksud adalah pengajaran moral tentang kepercayaan dan penyembahan terhadap Allah, khususnya ketaatan kepada undang-undang Allah dan penolakan terhadap aneka ragam bentuk keburukan dan kejahatan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, hikmat juga akan memberi kemampuan dan kekuatan kepada para pejabat, yaitu raja, pembesar, para bangsawan, dan hakim untuk memerintah dengan penuh kebenaran dan keadilan, bukan dengan kekejaman. Karena kemampuan dan kekuatan ini berjalan bersama-sama dengan “Takut akan Tuhan”, tetapi bertentangan dengan kejahatan, kesombongan, dan kata-kata yang penuh tipu muslihat.

Kemudian, dalam Amsal 8:18 dikemukakan alasan terakhir untuk mendengarkan hikmat, yaitu berkat hikmat. Hikmat yang dipersonifikasi memiliki wibawa ilahi karena ia memberi berkat yang hanya mungkin diberikan oleh Tuhan. Melalui kalimat deskriptif pada ayat 17 dan 18 dikemukakan langsung oleh hikmat bahwa berkatnya akan diberikan kepada orang yang sungguh-sungguh mengasihi hikmat dan yang dengan tekun mencarinya; “Jadilah berhikmat! Berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan”. Sesuai dengan bahasan sebelumnya tentang hikmat, maka dapat disimpulkan bahwa orang yang mengasihi dan tekun mencari hikmat adalah orang yang memiliki kepercayaan penuh kepada Allah, setia dalam penyembahan terhadap-Nya, bahkan menaati hukum dan undang-undang-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Dia suka akan bimbingan moral yang berasal dari undang-undang Allah tersebut. Orang yang seperti ini adalah orang yang memiliki kemampuan dan kekuatan untuk menanggulangi aneka ragam masalah dalam kehidupannya, bahkan mampu melaksanakan pekerjaannya dengan benar dan adil. Karena itu pasti orang ini pulalah yang akan menerima berkat hikmat.

III. Kajian umum tema
Bagaimana kita dapat memahami tanda-tanda zaman yang sedang terjadi saat ini? Barangkali banyak dari kita yang sudah tidak antusias lagi membicarakan hal-hal yang bersifat prinsipil, baik dalam hal moral maupun etika, karena semua orang telah tahu bahwa hal itu adalah mustahil. Mungkin kita juga sudah malu bahkan enggan membicarakan sesuatu yang ideal, tentang nilai-nilai, cita-cita luhur dan sebagainya.

Pada kondisi sekarang ini kita serasa kehilangan gairah dalam menatap masa depan. Mungkinkah kita sudah memasuki sebuah kultur yang pesimis yang menghantar orang banyak kepada pesimistic retreat? Tetapi, barangkali banyak dari antara kita yang belum sampai pada kondisi pesimistic tersebut. Namun, paling tidak, setiap hari kita menemukan ada tumpukan sikap cuek, skeptis dan apatis terhadap perkembangan budaya bangsa kita di dalam menghadapi masa depan.

Banyak orang lari pada kesempatan dunia privatnya, untuk mengejar apa yang masih bermakna dan menyenangkan untuk dirinya sendiri, tanpa peduli apa yang terjadi di luar sana. Situasi eksistensial yang buram inilah yang mungkin bisa menghubungkan kita sekaligus menyadarkan kita secara lebih mendalam dengan semua dinamika yang terjadi. Bagaimana kita dapat berjalan dalam kesulitan hidup zaman sekarang ini, dan menghidupi nilai-nilai kehidupan manusia yang seutuhnya di negeri yang sangat miskin cinta dan kasih, dalam budaya bangsa kita yang sekarang ini sedang mengalami carut-marut.

Menyadari kondisi yang terjadi pada belakangan ini, tampaklah adanya sebuah pengamatan yang telah terjadi, yang pernah dikemukakan oleh Sindunata (2002) pasca reformasi yang telah berlangsung dalam konteks masyarakat Indonesia. Dalam refleksinya Sindunata melihat tanda-tanda zaman pada masyarakat yang tanpa pusat. Di mana, dalam waktu yang relatif singkat, menjelang abad kedua puluh satu ini – yang sekarang kita kenal dalam sebutan kampung global atau global village – semua bentuk pemersatu, sentrum, perekat dan pengikat dalam masyarakat mengalami keruntuhan di tiap-tiap negara.

Sindunata telah mengungkapkan bahwa dewasa ini kita tidak dapat lagi bersandar pada tradisi, yang dulu sangat kita bangga-banggakan sebagai institusi yang mengikat kita bersama-sama. Juga tidak dapat lagi negara kita anggap sebagai institusi yang mampu mengatasi pelbagai problem yang kita hadapi. Pada kondisi sekarang kita sedang diperhadapkan pada sebuah pertanyaan, manakah sekarang objektivitas masyarakat yang boleh kita pertahankan? Dahulu memang ada objektivitas yang tidak berubah, yang dapat dijadikan ukuran (patron) untuk menilai dan menimbang sesuatu. Akan tetapi sekarang semua objektivitas yang kokoh, tak berubah dan abadi itu sudah hilang. Sebab, objektivitas tidak berada lagi sebagai patokan, tetapi sebagai sesuatu yang diperoleh dalam proses dan pengalaman, yang bisa selalu dirundingkan, karena itu juga harus selalu berubah dan tak bisa diubah.

Sindunata juga menegaskan bahwa, nilai-nilai seperti dalam anggapan tradisional itu sungguh tiada lagi. Sekarang ini nilai bukanlah harga mati. Artinya, hanya nilai yang dapat dipertanyakan, diargumentasikan dan diperdebatkan itulah yang menjadi nilai sejati, dipercaya dan dapat dipertahankan. Di bidang hukum, keadilan dan HAM, kita tidak dapat lagi berbicara secara normatif. Sekarang dalam bidang hukum ini tidak ada lagi suatu kebenaran yang substansial, sebab hukum, keadilan dan HAM sudah menjadi suatu komoditi yang bisa di tawar dengan harga yang ”pantas” di bawah laci.

Sehingga dari kondisi tersebut jelaslah apa yang dinyatakan oleh Sindunata dalam refleksinya, bahwa dapatkah suatu masyarakat tanpa sentrum itu bertahan atau dipertahankan? Dapatkah masyarakat tanpa nilai yang kokoh langgeng itu dapat berdiri? Tidakkah masyarakat demikian akan dengan mudah roboh dan ambruk? Inilah kondisi dilematis yang juga menjadi realitas hidup yang harus kita sadari dan pergumulkan saat ini. Sehingga dalam kesadaran ini ada permenungan yang akan menuntun kita untuk dapat segera bertindak dengan kritis mengatasi semua kondisi yang kita hadapi.

Sedikit atau banyak, peristiwa yang telah terjadi pada bangsa kita telah membuat masyarakat kita jenuh dan muak dengan dinamika hidup yang tidak jelas kemana arahnya. Setelah Orde Baru runtuh, tiadalah lagi sentrum yang mempersatukan kita. Kita menjadi bingung dan resah dengan fenomena yang ada. Akan tetapi, akan lebih fatal dan naif sekali jika dalam menghadapi kondisi zaman ini kita akhirnya menjadi cengeng dan berpikir untuk kembali mencari sentrum itu. Sebab, fenomena yang tampak dalam masyarakat kita saat ini memperlihatkan bahwa sangat banyak sekali orang yang ingin kembali mencari sentrum itu untuk mendapatkan dan menikmati apa yang dulu pernah dimilikinya tanpa ada gangguan apapun.

Oleh sebab itu, kita harus dapat bersikap kritis dalam melihat dan memahami semua fenomena yang terjadi pada saat ini. Dengan demikian kita akan dapat melihat apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Kesadaran GMKI untuk berada dalam pencarian transformatif haruslah terlihat dalam identitas diri yang utuh dan kuat, serta sikap hidup untuk mampu berjalan pada jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan. Sehingga, dengan sikap hidup yang takut akan Tuhan tersebut, maka GMKI akan diteguhkan dan tidak goyah untuk berjalan menghadapi tantangan dan perubahan zaman yang datang terus-menerus.

Berangkat dari semua kondisi dan permasalahan yang telah kita lihat sebelumnya, tentu perlu suatu upaya yang dilakukan GMKI dalam perbaikan ke arah yang lebih baik (defiensi positif). GMKI sebagai umat yang percaya (gereja yang incognito) tentunya harus lebih pro aktif untuk dapat peka dan tanggap dalam memahami fenomena ataupun kondisi apa yang sedang dan akan terjadi. Khidmat-Nya telah mengajarkan kita bahwa kita haruslah senantiasa berpegang dan bersandar pada hukum-Nya – untuk jadi berhikmat, berjalan dalam jalan kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan – agar kita semua tetap teguh berjalan dan tidak tersandung dan akhirnya terjatuh dalam godaan dunia ini.

Sehingga, untuk mampu bertahan dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman yang terjadi, kita membutuhkan hikmat Tuhan, yaitu sikap hidup yang “takut akan Tuhan”. Sebab, hanya orang yang benar-benar takut akan Tuhanlah kepada mereka Allah memberikan khidmat sebagai karunia: Salomo (Mat. 12:42; Luk. 11:31), Stefanus (Kis. 6:10), Paulus (2Ptr. 3:15), Yusuf (Kis. 7:10). Salah satu khidmat yang dapat kita lihat dari karunia Kristus kepada murid-murid-Nya adalah khidmat untuk mengatakan hal benar pada masa-masa penganiayaan dan pencobaan (Luk. 21:15).

Oleh sebab itu, hikmat mutlak perlu bukan saja bagi para pemimpin gereja (Kis. 6:3), tetapi juga bagi orang-orang percaya (baik orang muda maupun tua, yang kurang berpendidikan ataupun berpendidikan tinggi, yang berpengalaman ataupun tidak berpengalaman, bahkan para guru dan pengajar gereja) guna memahami supaya dapat berjalan seperti semestinya di jalan kebenaran dan jalan keadilan Allah (Kol. 1:9; Yak. 1:5; 3:13-17), dan juga supaya berhati-hati di depan orang-orang yang tidak percaya (Kol. 4:5). Sebagaimana Paulus juga telah mengajar para pendengarnya dalam segala khidmat (Kol. 1:28), demikian pula hendaknya mereka yang telah cukup dewasa untuk memahami khidmat rohani (1Kor. 2:6, 7), dan wajib pula mengajar orang-orang lain di dalam khidmat (Kol. 3:16).

IV. Matra pelayanan GMKI

4.1 Perguruan Tinggi
Dunia pendidikan mempunyai peranan yang sangat menentukan bagi perkembangan dan perwujudan diri individu – terutama bagi pembangunan suatu bangsa dan negara – dalam menghadapi dan menanggapi persaingan global. Oleh sebab itu Sudarminta (2000) dan Munandar (2002) telah mengemukakan bahwa kemajuan suatu kebudayaan dan perkembangan pendidikan masa depan suatu bangsa tergantung kepada cara kebudayaan tersebut mengenali, menghargai, dan memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki, dan hal ini berkaitan erat dengan bagaimana menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas dan tanggap terhadap tantangan era globalisasi.

Tujuan pendidikan pada umumnya ialah menyediakan lingkungan anak didik untuk mengembangkan potensinya secara optimal, sehingga ia dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya, sesuai dengan kebutuhan peribadinya dan kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu pendidikan bertanggungjawab untuk memandu (mengidentifikasi dan membina) serta memupuk (mengembangkan dan meningkatkan) potensi yang dimiliki.

Namun, pada faktanya hingga saat ini problematika pendidikan di bangsa kita secara umum dan dalam perguruan tinggi secara khusus masih memperlihatkan masalah yang sama, bahkan semakin berat. Salah satu bentuk keprihatinan yang masih menjadi bayang-bayang dalam masyarakat kita adalah semakin meningkatnya jumlah pengangguran yang dihasilkan oleh perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Kemudian, masalah-masalah yang juga perlu dicermati adalah:
• Paradigma kurikulum pendidikan berbasis kompetensi yang diselenggarakan dengan acuan kepentingan masa depan juga menghadapi masalah; ada kecenderungan lembaga pendidikan beroposisi sebagai produsen output bagi pengguna lulusan (user) dan pen-supplay kebutuhan masyarakat.
• Terjadinya passing-out beberapa jurusan atau program studi yang sudah jenuh; tidak lagi dibutuhkan karena segmen dunia kerja yang berbeda sebagai dampak dari pemenuhan target pasar.
• Munculnya masalah baru yakni usangnya kompetensi lulusan (obsolete) akibat adanya perubahan kebutuhan pengguna lulusan yang sangat cepat. Lulusan yang belum tertampung dalam dunia kerja kesulitan memasuki dunia kerja.
• Masalah mendasar lainnya adalah mekanisme atau cara yang tepat dalam mengidentifikasi yang representatif dalam mengidentifikasi kebutuhan riil pengguna lulusan di lapangan.

Perlu upaya serius dan berkelanjutan (sustainable) dalam mengatasi kondisi tersebut, dan mau tidak mau GMKI juga harus tetap berusaha memberikan solusi dalam melakukan perannya sebagai bagian dari perguruan tinggi. Sebab, jika GMKI tidak proaktif dalam mengambil peran untuk mengantisipasi hal tersebut, maka GMKI tidak akan mendapat ruang, bahkan akan ditinggalkan oleh mahasiswa. Tentunya peran konstruktif GMKI bagi perguruan tinggi tidak lahir dari struktur dan tersedianya segala sarana dan prasarana di dalam organiasasi, melainkan dimulai dari adanya kesadaran kritis dan motivasi yang kuat di dalam diri setiap kader GMKI untuk mau belajar mengenali, menghargai, dan memanfaatkan sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki untuk menjadi lebih produktif dan kreatif agar tetap semangat untuk terus belajar dalam membangun Rumah Intelektualitas GMKI yang tinggi Iman, ilmu dan Pengabdian.

Rumah intelektualitas yang hendak dibangun oleh GMKI dalam mempersiapkan anggotanya menjadi kader-kader yang kreatif dan komptetitif di dunia akademis haruslah dibangun atas dasar iman yang teguh. Dalam artian, GMKI harus kembali menyadari bahwa hanya dengan “takut akan Tuhanlah” maka GMKI akan diperlengkapi, diteguhkan dan menerima berkat hikmat dari Tuhan. Berkat dari hikmat Tuhan itulah yang akan memampukan GMKI untuk jadi berhikmat agar dapat berjalan pada jalan kebenaran, di tengah jalan-jalan keadilan menghadapi tantangan dan problematikan pendidikan yang terjadi di perguruan tinggi.

4.2 Gereja
Konteks matra gereja yang terjadi hingga saat ini masih juga dalam kondisi dan pergumulan yang telah diungkap oleh GMKI pada kongres sebelumnya. Secara umum pelayanan gereja masih bersifat karitatif (belum pada konteks pemikiran konstruktif dan aplikatif) dan masih di sekitar tradisi pelayanan mimbar yang belum menyentuh kebutuhan dasar sebagai warga jemaat dan masyarakat dalam pemenuhan aspek kesejahteraan dalam arti yang luas. Di satu sisi, gereja juga masih terkesan terus berlomba untuk membangun gedung-gedung peribadatan yang megah, sedangkan kesejahteraan (kemiskinan) jemaat dan masyarakat sekitar luput dari perhatian dan pelayanan diakonia gereja. Pada sisi lain, diberlakukannya PERBER 2 Mentri Tahun 2006, masih menjadi problematika yang terus berproses di dalam gereja hingga saat ini untuk mendapatkan jaminan hukum atas hak untuk beribadah dan membangun rumah ibadah. Akan tetapi, gereja masih saja menganggap bahwa hal tersebut sebagai hal yang biasa, sehingga gereja belum mampu proaktif untuk mempersiapkan diri dalam menghadapi problematika hukum tersebut secara bersama-sama.

Dalam pengembangan bidang ekonomi dan kesejahteraan, gereja juga belum sepenuhnya mengembangkan bentuk-bentuk usaha kemandirian yang berorientasi pada kemandirian dana untuk mendukung pembangunan ekonomi jemaat. Hal ini dimaksudkan selain menjadi sumber keuangan yang dapat menopang pelayanan gereja, dapat pula menyerap tenaga kerja dari kalangan warga jemaat. Kongkritnya, peran diakonia sosial gereja sangat dituntut dalam membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat kearah tingkat kelayakan hidup yang seharusnya. Sebab, kondisi ini merupakan kebutuhan pelayanan gereja yang mendesak untuk dirasakan oleh jemaat.

Gereja sebagai salah satu media pewarta kritis dan fungsi kontrol seharusnya berada pada posisi dan mitra kritis pemerintah/negara yang banyak melakukan kooptasi terhadap kehidupan gereja. Kecendrungan saat ini, gereja menjadi lumpuh dan tidak lagi menjadi mandiri dalam mengkritisi kehidupan kenegaraan tetapi justru menjadi alat kepentingan negara untuk mengendalikan umat di tingkatan FKUB. Gereja terjebak dalam orientasi struktur dan figur kekuasaan negara yang pada akhirnya membuat gereja seolah-olah menjadi sub-ordinasi dan dipolitisasi oleh negara. Ini jugalah yang membuat suara kenabian gereja terdengar sumbang; gereja telah kehilangan wibawa profetisnya.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI) sebagai wadah berhimpun bersama dengan tujuh aras gereja nasional (PGLII, PGPI, GOI, dst) mestinya secara bersama-sama aktif mendorong gereja-gereja anggotanya untuk tetap bersama-sama menyuarakan kebenaran dan keadilan di tengah-tengah kondisi bangsa yang sedang bergejolak karena diharu biru oleh gerakan-gerakan ekstrim yang destruktif di dalam berbangsa dan bernegara di Republik Indonesia. Saat ini Gereja sedang berada dalam labirin intoleransi, dan gereja sangat diharapkan untuk mampu membawa transformasi pemahaman dan pemaknaan tentang keyakinan yang berwajah kontekstual. Sehingga, gereja mampu meletakkan dialog lintas agama dalam bingkai usaha-usaha pembangunan masyarakat komunikatif yang bebas tekanan dan dominasi. Dengan demikian, kehadiran gereja pada bangsa ini tetap menjadi berkat lewat solusi maupun upaya-upaya konstrukstif lainnya yang dilakukan bersama-sama.

4.3 Masyarakat
Gejolak krisis ekonomi dan ketidakadilan sosial, serta kemiskinan masih menjadi persoalan mendasar pada masyarakat Indonesia saat ini. Sebab, kehidupan yang sejahtera dan kelimpahan materi hanya dinikmati oleh sekelompok kecil golongan masyarakat, yang kemudian berakibat pada kesenjangan sosial yang semakin lebar dan pada akhirnya menggerus semangat kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Komitmen negara untuk menegakkan hukum dan keadilan dalam membongkar dan meyelesaikan pesakitan korupsi belum dapat berjalan dengan baik, bahkan semakin meluas dan sistematis. Jaringan korupsi yang perlahan terbongkar juga melibatkan aparat maupun pejabat negara, baik legislatif, judikatif, maupun eksekutif. Kondisi tersebut semakin menegaskan bahwa bahwa elit negara sangat rentan terhadap perilaku yang korup. Korupsi sistemik yang berjamaah di semua lembaga tersebut mengakibatkan penegakan supremasi hukum yang tebang pilih dan hanya tunduk pada kepentingan politik.

Bencana alam dan krisis lingkungan hidup ternyata masih membayang-bayangi masyarakat kita. Program konservasi alam dan penanaman sejuta pohon yang dicanangkan pemerintah ternyata belum mampu menanggulangi ataupun mengurangi setiap bencana yang akhir-akhir ini sangat meresahkan masyarakat baik di desa maupun kota. Sehingga, perlu langkah kongkrit dan berkelanjutan sebagai usaha partisipatif yang konstruktif dalam mendorong masyarakat untuk menyadari akan krisis lingkungan (ekologi) yang saat ini sudah sangat memperihatinkan.
Otonomi daerah sebagai strategi pengembangan daerah ternyata belum dapat menjadi sistem pendukung (supporting system) untuk mendekatkan efektifitas pelayanan pemerintah kepada masyaratakat. Bahkan, akhirnya otonomi daerah menjadi kehilangan orientasi dalam menjalankan fungsinya sebagai instrument pengembangan daerah. Otonomi daerah menjadi kekuasaan baru untuk semakin melegalkan eksploitasi sumber daya alam selain mendorong praktek penyimpangan hukum melalui perda-perda yang direduksi untuk kepentingan golongan dan ideologi politik tertentu. Dipihak lain, pemerintah juga cenderung menggeneralisir sistem pemerintahan yang mengabaikan kekhasan tiap wilayah.

Partai politik sebagai rumah aspirasi yang diharapkan sebagai motor perubahan budaya politik, ternyata masih terjebak dalam budaya feodalistik yang antidemokrasi. Dimana setiap keputusan partai (yang tidak transparan) selalu menjadi prioritas utama. Partai menjadi alat manipulasi oleh sekelompok elit terhadap kepentingan rakyat. Sejatinya partai politik menjadi saluran aspirasi masyarakat berlandaskan aliran dan ideologi yang dianut untuk menciptakan kesejahteraan, namun kenyataanya partai hanya menjadi kendaraan untuk mengawal kepentingan kelompok.

Mencermati partai politik peserta pemilu tahun 2009 yang terlalu banyak, pemerintah selaku regulator melalui Komisi Pemilihan Umum (KPU) semestinya dapat dengan tegas membatasi jumlah partai-partai peserta pemilu tanpa harus membatasi hak untuk membentuk partai politik baru sebagai bagian dari demokrasi. Fenomena demokrasi saat ini telah membuai seluruh masyarakat dalam sebuah siklus lima-tahunan lewat pemilihan umum yang seyogyanya adalah pesta demokrasi, akhirnya menjadi sekedar ritual untuk mendapatkan kekuasaan melalui legitimasi rakyat.

Demokrasi menjadi candu propaganda politis ditengah ketidakmampuan pemerintah untuk mensejahterakan rakyat, sementara sistem ketatanegaraan hanya menjadi alat untuk memperkuat kekuasaan. Keadaan ini diperparah lagi dengan kepemimpinan nasional yang lemah dan tak berwibawa, dan berdampak kepada produktivitas kepemimpinan di daerah. Transisi demokrasi hanya menjadi jargon untuk membenarkan segala bentuk kelemahan dan penyimpangan praktek penyelenggaraan negara. Capaian demokrasi substansial untuk penegakan hukum, keadilan, kesetaraan dan kesejahteraaan masih berupa wacana yang pada kenyataanya juga sebatas prosedur demokrasi.

V. Kajian Sub Tema
Mendorong Solidaritas Bangsa Untuk Memperjuangkan Kebenaran, Keadilan Dan Kesejahteraan Dalam Mewujudkan Kemerdekaan Indonesia Secara Bermartabat.

5.1 Solidaritas bangsa
Solidaritas dan wajah pluralisme Bangsa Indonesia sedang diharu biru oleh berbagai konflik (etnik/ras, agama, politik, akonomi ataupun budaya) yang melanda. Intoleransi beragama, terorisme, dan tendensi pengerasan identitas seolah-olah mendapat tempat yang subur di Indonesia. Mengaburnya pagar-pagar identitas akibat interaksi yang kian ketat dan ketidakpastian sistem-sistem sebagai pegangan kategoris, akhirnya mengakibatkan kebingungan identitas. Ini masih diperburuk oleh fakta bahwa interaksi global yang terjadi kerap kali dialami sebagai ketidakadilan, bahkan menindas. Maka situasi ini mudah melahirkan tendensi kabalikannya: pengerasan identitas secara membabibuta, naïf dan penuh amarah. Identitas dipeluk erat-erat dan tertutup dengan cara menyingkirkan atau membunuh segala yang lain dan yang berbeda. Maka meriaplah hari-hari ini dengan berbagai bentuk perjuangan identitas, atas nama kelompok etnis, agama, politik, ekonomi ataupun budaya.

Kondisi tersebut juga telah menjadi pengamatan yang sama seperti yang dikemukakan oleh Sultan Hamengku Buwono X sebagai bentuk gejala krisis budaya, di mana belakangan ini jati diri regional lebih diutamakan dari pada jati diri nasional yang lebih luas. Akan tetapi, penyempitan jati diri ini berlangsung beriringan dengan perluasan jati diri masyarakat yang semakin banyak berinteraksi dengan bangsa lain, yang memiliki adat-istiadat dan peradaban yang berbeda. Penyempitan jati diri ini bisa dilihat dari, misalnya, gencarnya gerakan “kembali ke etnisitas” di panggung politik Indonesia akhir-akhir ini. Hal ini jika tidak dicermati dengan seksama dapat menjadi salah satu pemicu disintegrasi bangsa.

Situasi pasca-reformasi dan suasana pergaulan global telah mengakibatkan bangunnya kesadaran individu. Kini individu sedang menyadari hak-haknya, sedang membangun dan menikmati kehidupan moderennya masing-masing. Ada suasana umum egosentrisme yang kuat, kerakusan yang nekad, dan kecenderungan anti sosial yang ngawur. Kekuasaan, popularitas dan kekayaan seakan-akan adalah hal yang paling berharga dan penting yang diburu semua orang. Dalam konteks ini seringkali kepentingan agama, etnisitas, ekonomi, dan lainnya hanyalah siasat atau lips-service belaka. Di sana tampak jelas bahwa individu Indonesia itu mentah, kekanak-kanakan dan dangkal: etos kerjanya amat rendah dan maunya serba instant, tanggungjawab hanyalah soal rekayasa pencitraan di media, moralitas hanyalah menjadi sekedar urusan ritual, penalaran mendalam diganti menjadi kesetiaan yang garang, bahkan komitmen nilai dan konsistensi pun diganti dan dibeli dengan harga yang “pantas” dalam negosiasi di bawah laci.

Menyikapi kondisi tersebut, tentunya perlu upaya yang serius dalam mendorong kembali bangkitnya kesadaran moral dan solidaritas bangsa untuk menjadi peluang baru yang menjanjikan bagi masyarakat Indonesia. GMKI sebagai salah satu organisasi yang turut andil dalam proses pembentukan dan pembangunan bangsa ini kembali diingatkan akan tugas dan panggilannya untuk tetap mengawal proses tersebut. Dalam artian, peran GMKI sangat dibutuhkan dan tetap akan dibutuhkan dalam menjawab cita-cita proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia sebagai warga negara dan warga gereja.

Akan tetapi, peran konstruktif dan kreatif yang hendak dilakukan GMKI dalam mendorong kembali solidaritas bangsa bukanlah semata-mata menjadi serupa dengan apa yang telah ditawarkan oleh organisasi atau kelompok lain. Ada peran yang unik dan khas, menjadi warna tersendiri bagi GMKI dalam mewujudkan partisipasinya guna mendorong solidaritas tersebut. GMKI sebagai gerakan pemikiran yang konstruktif, juga diharapkan dapat menjadi gerakan yang efektif dan praktis dalam memberikan jawab atas fenomena intoleransi dan gerakan-gerakan destruktif lainnya.

Peran unik dan warna yang khas tersebut juga tersimpan di dalam hikmat “takut akan Tuhan”. GMKI dapat mendorong terwujudnya solidaritas tersebut jika GMKI benar-benar berjalan di jalan yang benar, di tengah-tengah jalan keadilan. Hikmat itulah yang akan menuntun GMKI menjadi gerakan yang berbeda dengan gerakan lainnya. Itulah hikmat gerakan yang berani hadir, bahkan terbuang di bawah kolong langit untuk bergeliat dan terus bergumul menjadi berkat dan perekat dalam mewujudkan solidaritas tersebut. Sebab, gerakan yang dibangun diluar dari hikmat itu adalah gerakan yang semata-mata dilakukan hanya untuk kepentingan duniawi.

5.2 Kebenaran dan Keadilan
Wajah hukum dan keadilan bangsa Indonesia sudah dipenuhi borok yang mengerikan. Kepastian hukum sudah menjadi hal yang jarang sekali kita temukan saat ini. Kasus KPK versus POLRI, skandal Bank Centuri, dan mafia hukum dalam sindikat makelar kasus menjadi isu yang sangat menggemparkan dalam ruang publik masyarakat kita. Kebenaran yang hendak diungkap atas semua skandal dan kasus yang terjadi pada bangsa kita tidak akan pernah didapatkan oleh masyarakat jika penegakan keadilan dan reformasi hukum dan politik secara komunikatif tidak dapat berjalan dengan baik.

Kriminalisasi yang terus meningkat, hukum yang tidak berbela rasa; tidak berpihak pada yang lemah serta obral remisi yang dilakukan oleh pemerintah (president dan kementrian hukum dan HAM), adalah kebijakan yang semakin membuat masyarakat kita semakin miris. Pembiaran oknum-oknum dan kelompok tertentu dalam melakukan tindakan kekerasan seolah-olah mendapatkan tempat yang subur pada masyarakat kita. Beberapa kasus konflik yang terakumulasi akibat dari proses pembiaran yang dilakukan oleh negara tersebut adalah konflik kekerasan yang menimpa jemaat HKBP Pondok Timur Indah Bekasi, GKI Yasmin, Jemaah Ahmadiyah di Kuningan, Jawa Barat, dan banyak lagi.

Tentunya konflik tersebut sangat memilukan hati segenap masyarakat Indonesia. Mengatasnamakan agama, mereka secara leluasa melakukan tindakan anarkhis terhadap penganut agama lain. Agama bahkan dijadikan alat untuk menekan kelompok lain. Akibatnya, agama sebagai sumber kedamaian, membawa pesan kepada seluruh umat manusia tentang kasih sayang, keadilan, dan saling memahami menjadi berubah fungsi. Agama justru tampil berwajah garang dan sangat mudah tersulut untuk menabuh genderang perang.

Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan mengingat bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang majemuk dan memiliki tingkat toleransi umat beragama yang cukup tinggi, tetapi belakangan ini berubah dan memperlihatkan sikap intoleransi. Dengan demikian, peran hukum dalam penegakan keadilan dan kebenaran sangat dituntut. GMKI harus hadir pada posisi tersebut. Mendorong penegakan hukum untuk tetap menjadi pilar penting dalam mewujudkan masyarakat yang adil. Sebab, tanpa penegakan hukum tersebut bangsa ini akan mengalami kropos dan ketimpangan yang berkepanjangan.

Di sisi lain, GMKI juga harus memberikan dorongan atas penegakan hukum dalam mewujudkan keadilan dan kebenaran yang netral dan tidak memihak kepada apa dan siapapun. GMKI harus menempatkan dirinya sebagai fungsi kontrol atau pengawasan dalam pembaruan hukum di Indonesia. Upaya tersebut tentunya akan tercermin dari dalam diri GMKI ketika organisasi ini juga tetap hidup dalam hukum-Nya dan berjalan dalam hikmat kebenaran, di tengah-tengah jalan keadilan. Tanpa hikmat tersebut maka GMKI akan terombang-ambing dan terjebak pada proses hukum yang salah, yang hanya memuaskan pihak/kelompok tertentu, yang berkuasa menentukan segalanya.

5.3 Kesejahteraan
Meriapnya gerakan-gerakan mikro belakang ini adalah bentuk perlawanan masyarakat atas lambatnya kebijakan pemerintah dalam pengentasan kemiskinan dan mewujudkan kesejahteraan sosial yang sesungguhnya. Bersama dengan menurunnya kepercayaan terhadap sistem-sistem besar, banyak individu kini merintis gerakan dalam rupa kelompok-kelompok kecil, yang saling terhubung namun mandiri, dan dengan caranya masing-masing menggulirkan berbagai kegiatan produktif, kreatif, dan berkualitas, baik di wilayah sains, seni, ekonomi pinggiran, pendidikan, penerbitan, ekologi, politik, industri-kreatif maupun agama yang dibungkus dalam kemasan CU (credit union) dan syariah. Dan jaringan mereka diam-diam banyak yang menjangkau skala internasional-global, pola geraknya tidak lagi bisa dibatasi oleh aturan maupun kebijakan nasional-lokal. Kinerja mereka boleh jadi tidak tampak spektakuler, namun hidup dan berdampak, dalam spektrum kisaran-kisarannya masing-masing.

Akan tetapi, pada sisi lain gerakan mikro tersebut tidak akan dapat bertahan menghadapi krisis yang masih berlangsung dalam persaingan pasar ekonomi global. Hal ini dikarenakan belum siapnya masyarakat kita menghadapi perubahan besar yang sedang berlangsung. Ada keterbatasan SDM dan juga modal akhirnya membuat masyarakat kita terjebak pada kondisi yang tidak bisa berbuat apa-apa. Sehingga, dampak yang ditimbulkan adalah kemiskinan yang berkepanjangan. Hal ini tampak dari apa yang diungkapkan oleh Tim Partisipasi Penanggulangan Kemiskinan (TPPK), bahwa daerah miskin di Indonesia hingga tahun 2010 sebesar 54% adalah di kantong-kantong Kristen. Dalam artian, bahwa pemerintah memberi peningkatan angka kesejahteraan masyarakat dalam statistik, tetapi fakta di lapanagn berbicara lain. Kemiskinan adalah tanggungjawab negara sepenuhnya, akan tetapi dalam hal ini gereja juga ikut lalai untuk berbuat.

Menyikapi konteks ini, seharusnya GMKI dan gereja dapat membangun kerjasama untuk mengatasi masalah kesejahtraan di Indonesia, baik pusat maupun daerah. Terutama kemiskinan yang masih tinggi di daerah-daerah dan kantong Kristen. Gereja dan GMKI jangan merasa alergi untuk membangun kerjasama dengan pemerintah pusat sampai level pemerintah bawah. Dengan demikian, gerakan mikro yang saat ini sedang bertumbuh di Indonesia menjadi kesempatan yang produktif untuk dikembangkan di daerah-daerah, terutama di daerah kantong-kantong Kristen.

Begitu banyak potensi yang kita miliki. Sumber daya alam kita juga sangat kaya. Namun, SDM kita masih belum mampu untuk memanfaatkan kesempatan dan fasilitas dari pemerintah karena minimnya informasi dan pemberdayaan yang tersosialisasi ke daerah-daerah. Oleh sebab itu, GMKI dan gereja bersama-sama dengan stakeholdernya haruslah bersama-sama untuk menciptakan peluang; baik dalam memanfaatkan program-program yang telah disiapkan oleh pemerintah, maupun program bersama yang berdaya cipta kreatif sebagai solusi kesejahteraan atas kemiskinan yang masih membelenggu masyarakat kita.

5.4 Kemerdekaan secara bermartabat
Sudah enam puluh lima tahun Indonesia menyatakan merdeka atas penjajahan, dan sudah dua belas tahun bangsa ini juga merayakan proses demokrasi yang telah dipetik dari perjuangan bersama-sama. Namun, fakta membuktikan bahwa bangsa ini masih dililit oleh berbagai persoalan yang bertentangan dengan makna dari kemerdekaan itu sendiri. Kemiskinan, kebodohan, penindasan serta pengekangan terhadap hak asasi manusia masih saja terjadi. Bahkan yang menonjol akhir-akhir ini adalah kebebasan beribadah. Apakah yang telah dicapai di dalam kemerdekaan Indonesia yang sesungguhnya? Mungkinkah kemerdekaan yang bermartabat dapat terwujud?

Kemerdekaan tidak bertujuan dalam dirinya sendiri, melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan suatu cita-cita luhur, sebagaimana dinyatakan dalam alinea ke-3 pembukaan UUD 1945: Atas berkat rahmat Allah yang maha kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya. Cita-cita “supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas” pada masa perjuangan kemerdekaan memang merupakan kritik pada kepada kenyataan hubungan kolonial dengan banyak pembatasan terhadap bangsa Indonesia sebagai rakyat jajahan pada waktu itu. Di era Indonesia merdeka “kehidupan kebangsaan yang bebas” mencakup pula kebebasan warga negara (hak-hak politik dan sipil).

Dalam UU HAM (No 39 TAHUN 1999) kata-kata bebas/kebebasan tercantum dalam enam pokok, yaitu hak hidup, hak bebas dari penyiksaan dan perlakuan tidak manusiawi, hak bebas dari perbudakan dan kerja paksa. Juga hak atas kebebasan dan keamanan pribadi, hak atas kebebasan bergerak dan berpindah, hak atas pengakuan dan perlakuan yang sama dihadapan hukum, hak untuk bebas berpikir, berkeyakinan dan beragama, hak untuk bebas berpendapat dan berekspresi, hak untuk berkumpul dan berserikat serta hak untuk turut serta dalam pemerintahan.

Hal penting dan mendasar dalam pelaksaan undang-undang pada negara yang telah menyatakan kemerdekaannya adalah dengan menjunjung HAM dan penegakan hukum yang adil dan benar. Hukum harus sama di bagi semua orang, apakah perlindungan atau hukuman. Semua warga negara, setara di mata hukum, harus sama berkesempatan untuk semua kedudukan yang tinggi, jabatan-jabatan dan pekerjaan publik, sesuai kemampuan mereka, dan tanpa pembedaan lainnya selain dari kebajikan dan bakatnya.

Dengan demikian, persaudaraan yang dimaknai kebersamaan: “setiap orang mencita-citakan kebebasan, kesetaraan, namun dia tak dapat dicapai tanpa bantuan orang lain, tanpa persaudaraan.” Prinsip ini justru penting dalam suatu negara bangsa yang berbasis kemajemukan seperti Indonesia, bahwa hanya dalam kebersamaan cita-cita kemerdekaan secara bermartabat dapat diwujudkan. Sebab, masa depan bangsa tidak dapat diperjuangkan sendiri-sendiri, atau diperjuangkan sendirian oleh suatu kelompok untuk semua, melainkan seluruh komponen bangsa harus bersama-sama memperjuangkan masa depan bersama. Untuk itu, GMKI dan gereja penting untuk mendorong dan memperkuat kembali komitmen bersama terhadap suatu dasar dan visi bersama sebagaimana digagas dan ditetapkan oleh pendiri negara, yang kini diwacanakan dalam keempat tonggak nasionalisme Indonesia: Pancasila, UUD 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhineka Tunggal Ika.

Pemaknaan yang utuh terhadap kemerdekaan yang bermartabat bukanlah suatu proses yang instant untuk menyulap kompleksitas semua permasalahan bangsa menjadi kebaikan seperti yang kita harapkan. Pada satu sisi, kita tetap perlu mengingatkan pemerintah untuk menjalankan pemerintahan yang berlandaskan hukum dan keadilan untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera. Namun, di sisi lain GMKI dan gereja bersama-sama dengan stakeholdernya juga harus terus berjuang mengisi dan memberi makna atas kemerdekaan yang telah diperoleh saat ini.

Refleksi atas pemaknaan kemerdekaan yang sesungguhnya bukanlah sekedar perjuangan untuk menyelesaikan persoalan, krisis hukum, intoleransi, krisis ekonomi, dan persoalan lain sebagainya. Akan tetapi, perjuangan kemerdekaan itu adalah proses panjang yang berkelanjutan (sustainable), yang harus kita perankan dalam setiap tugas dan tanggungjawab panggilan kita. Itulah hikmat Tuhan yang harus kita syukurkan sebagai warga negara dan warga gereja untuk mampu berjalan di jalan kebenaran, ditengah-tengah jalan keadilan. Tinggilah iman kita, tinggilah ilmu kita, dan tinggilah pengabdian kita.
Ut omnes unum sint. Syalom